Kisah Porter Bekerja Seumur Hidup Di Bakuheni

SOSIAL25 Dilihat

TIME IN, Lampung Selatan – Matahari baru saja meninggi di ufuk timur Pelabuhan Bakauheni, namun Bapak Maksum (66) sudah berdiri tegak di antara deru mesin kapal dan hiruk-pikuk penumpang.

 

Mengenakan seragam warna merah khas porter yang kini mulai memudar warnanya, pria kelahiran 1960 ini bukanlah orang baru di sini. Ia adalah saksi hidup sejarah, seorang “penjaga pundak” yang telah mengabdi sejak hari pertama pelabuhan ini diresmikan pada Kamis, 26 Juni 1982.

 

Bagi Maksum, Bakauheni bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan panggung sandiwara kehidupan yang telah ia jalani selama lebih dari empat dekade.

 

Maksum mengenang masa awal ia merintis karier sebagai porter.

 

“Dulu, bawa pulang Rp5 ribu sampai Rp10 ribu itu rasanya besar sekali. Karena dulu harga makanan murah, uang segitu sudah sangat ringan untuk hidup,” kenangnya dengan tatapan menerawang.

 

Kini, di Maret 2026, angka-angka itu telah berganti.

 

Saat arus mudik lebaran seperti saat ini adalah kesempatan bagi Maksum untuk bisa mengantongi Rp100 ribu hingga Rp150 ribu sehari.

 

Namun, setelah momentum tahunan ini berlalu, ia hanya bisa menghela nafas sembari menanti kedatangan penumpang yang belum pasti.

 

Bagi dirinya, menjadi porter adalah tentang bertarung dengan ketidakpastian. Berbeda dengan buruh bangunan yang memiliki upah tetap, pendapatan Maksum sepenuhnya bergantung pada kemurahan hati arus penumpang.

 

“Pernah saya menunggu tiga hari tiga malam, di hari biasa bukan momentum hari raya. Pelabuhan sepi sekali. Hasilnya… cuma Rp25.000,” ungkapnya getir.

 

Namun, ia tetap bersyukur. Di hari-hari baik, sedekah dari penumpang yang dermawan bisa membuat kantongnya terisi hingga Rp250 ribu.

 

Sebagai Ketua Porter yang membawahi sekitar 73 anggota, Maksum memikul tanggung jawab lebih.

 

Ia harus memastikan ketertiban di dermaga eksekutif maupun reguler.

 

Namun, ia tak menampik bahwa profesi ini mulai ditinggalkan.

 

Saat ini, hanya sekitar 30 porter yang aktif setiap hari. Sisanya, mereka memilih merantau ke Kalimantan atau Bangka, mengadu nasib di perkebunan sawit atau proyek bangunan karena sunyinya penumpang di Bakauheni.

 

Disisi lain, Fisik Maksum tak lagi seprima dulu. Sejak medio 2015, ia mulai merasakan tubuhnya bicara—protes atas beban berat yang dipikul puluhan tahun.

 

Jika dulu ia sanggup menggendong beban apa pun, kini ia membatasi diri maksimal 20 hingga 30 kilogram saja.

 

“Kalau ada beban di atas 50 kilo, seperti karung beras, saya serahkan ke yang muda-muda. Harus tahu diri,” ujarnya sambil tersenyum tipis.

 

Meski usia terus menggerus tenaganya, semangat Maksum tak kunjung padam.

 

Bahkan saat Lebaran tiba, ia hanya mengambil jeda satu hari untuk bersilaturahmi sebelum kembali ke “medan perang” memantau arus mudik.

 

Baginya, setiap keringat adalah ibadah.

 

Di senja usianya, harapan Maksum sederhana: ia hanya ingin diberi kesehatan agar tahun depan, di 2027, ia masih bisa berdiri di dermaga yang sama, menyambut penumpang dengan pundak yang siap menyangga beban dunia.

 

“Namanya juga kita mencari rezeki dari Allah apa adanya. Kalau dapat ya syukur, kalau tidak dapat ya tidak usah ambil pusing, biasa-biasa saja,” pungkasnya menutup percakapan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *